Minggu, 11 Maret 2012

EKSPRESI KARAKTERISTIK ‘BAGONG’ DALAM KEMASAN ‘JIDOOR ART’


Banyak orang mengenal Bagong sebagai simbul dari kekonyolan, kebloonan, kelucuan, yang tersimpul menjadi lambang ‘koclok’. Temperamen Bagong yang sangat ‘ndesu’ dengan kondisi phisik yang unik; tubuh bulat dan bibir ‘ndower’ justru kemunculan Bagong selalu ditunggu. Tak heran, dalam kisah pewayangan, penonton sanggup mengabaikan alur kisah yang pakem atau memilih tidur dengan pengertian akan bangun manakala Bagong yang konyol sudah muncul di dunia pakeliran.
Bagong bukan ratu, bukan satria atau pejabat penting di blantika kisah pewayangan, bahkan Bagong hanyalah semacam pelengkap, kawulo alit, bahkan terlalu kecil jabatannya, namun Wayang tanpa kemunculan Bagong akan terjadi kolep tanpa arti apapun dari adanya sebuah pertunjukan.
Siapa sebenarnya Bagong sampai memiliki pengaruh dahsyat semacam itu?
Bagong tak lain adalah ‘bayangan’ yang diciptakan untuk mempertajam peranan Semar Bodronoyo. Sedangkan Semar tak lain adalah Dewa yang ‘ngejowantah’ atau Pejabat tinggi yang menyamar sebagai rakyat jelata. Tak ada yang sanggup menatap dan mengalihkan kebijakan Semar sebagai pamomong. Dalam seluruh deretan tokoh tokoh pewayangan, Semar itulah yang paling disegani, dihormati, dan tak terkalahkan. Namun hanya Bagong yang dibiarkan dan diwenangkan mengkritisi Semar. Sikap konyol dan bahkan karekter Bagong yang terkesan paling kurang sopan terhadap Semar dibanding anak anak Semar lainnya, bahkan ‘bendoro’nya, Semar merasa tidak pernah sakit hati dengan apapun yang dilakukan oleh Bagong. Semar selalu menganggap Bagong paling berarti untuk mendeteksi dirinya sendiri.
Bagong hanya sebuah bayangan, dan itu makna yang paling jelas untuk mengartikan bahwa action apapun tidak memiliki arti apapun manakala tidak ada bayangan sama sekali. Indikator bayangan jelas sekali bahwa sebuah action dilakukan dalam kondisi suasana cerah, terang benderang. Sebaliknya, apabila sebuah kegiatan yang meskipun ‘dimanag’ sedemikian rupa sampai glamornya luar biasa, namun manakala khilaf mendeteksi adanya bayangan, sesungguhnya kegiatan show tadi tersaji dalam susana gelap.
Bayangan memang bentuknya sederhana sekali, satu warna yang cuma berujud hitam, namun Bayangan itulah yang sanggup memperjelas makna adanya sumber hakikat. Untuk mempertajam bayangan hanya ada satu cara, yakni memperkuat pencahayaan yang harus dimiliki pelaku kegiatan. Sumber pencahayaan itu akan bisa kuat bila ditambah foltase bila dikaitkan dengan medan mekanik, dan sanggup berdiri di tengah terik matahari yang paling nanar ketika dikaitkan dengan medan alam. Tentunya akan menjadi ironis apabila justru bayangan hitam yang dipermak dengan olesan cat hitam. Itulah yang sering dilakukan orang karena sering teledor melakukan action kegiatan hanya sekedar bicara show tanpa mencari sumber sumber bagaimana karakter bayangan itu terjadi. Mendeteksi bayangan memang akan memunculkan ribuan tafsiran guna mencari hakikat yang sembunyi di balik bayangan, namun pada titik ultimatum terakhir ribuan tafsir tadi, suatu saat akan jelas makna hakikat yang sembunyi. Biarlah orang terus sibuk berproses menganalis bayangan, tapi satu hal yang bisa ditangkap bersama dari ribuan tafsir tadi, yakni ‘bayangan’ diyakini sebagai indicator tak terbantahkan oleh penalaran adanya ‘obyek’ yang dianggap sebagai hakikat.
Jidoor Art, memilih Bagong sebagai mascot tentu tidak sembarangan. Ada sinyal bantuan rembulan di obyek Bagong berkarakter wayang kulit. Bagi orang yang mendalami secara filosofisnya, ia akan mampu memberi tafsiran tersendiri, tafsiran itu akan membias menjadi sangat luas, dan akan menelurkan makna makna satu tafsiran dengan tafsiran lainnya saling mengerucut menemukan obyek yang sebenarnya. Tafsiran tafsiran manapun itulah bentuk inofasi yang orang akan dengan sendirinya memilah dan memilih yang semuanya merasa tertuntut saling membuktikan. Karena itilah, Jidoor Art, hanya sebuah lahan untuk menguji atau bereksperimen cara menganalisis menemukan hakikat obyek seni. Jidoor Art itu hanyalah sebuah bayangan, akan salah apabila bayangan yang dipoles untuk mempertajam. Namun justru kegiatan atau action yang berujud bentuk yang selalu diuji sebagai eksperimen mencari hakikat bayangan. Jidoor Art hanyalah lahan, semacam tanah buat petani yang bisa ditanami padi, jagung, kopi, sengon atau lainnya.
Bagong yang konyol itu identik dengan manusia ter-Jidoor. Mungkin bagi orang yang tidak mengenal karakteristik Bagong, menganggap Bagong sebagai manusia tak jelas karakternya. Dengan bendoro sangat hormat, namun dengan para Dewa malah blanyongan. Yang lebih ironis, dengan rajanya para Dewa, yakni Semar malah tidak mengenal ‘unggah ungguh’. Tapi sesungguhnya Bagong adalah simbul karakter yang mampu menampilkan kesempurnaan karakter. Bagong tidak pernah marah ketika dihujat tentang temperamennya yang dikenal dengan si bibir ndower. Bahkan label bibir ndowernya dijadikan sesuatu yang paling berarti. Bagong selalu mengikhlaskan menjadi punokawan yang paling dikuyo kuyo bahkan jadi obyek hujat hujatan siapapun. Tapi Bagong tetap Bagong yang kehadirannya selalu dinantikan pemirsa, dimana pemirsa malah tidak suka dan merasa asing bila Bagong tidak muncul sebagai manusia konyol, bahkan harus tampil paling konyol.
Diperlukannya Bagong dalam ‘Jidoor Art’ sebagai mascot, agar siapapun mampu menangkap layaknya orang memahami siapa sebenarnya Bagong itu sendiri. Bagong simbul orang kecil dan bahkan kalangan terendah, manun orang tidak pernah membenci Bagong sekalipun Bagong dengan logat Jidornya sering juga menggemaskan. Orang selalu memberi peluang dan sarat dengan permakluman yang sangat dalam, bak mobil ambulan meski tanpa bantuan foreder atau armada kepolisian lalu lintas, cukup membunyikan sinyal ‘uli-ulinya’ kendaraan apapun ikhlas menyingkir untuk memberi jalan lebih dulu pada mobil ambulance. Karena itulah, mobil ambulance cukup mampu mengadaptasikan kepermakluman public dengan menulis ‘ambulance’ dengan huruf ‘bayangan terbalik’ agar memudahkan para sopir kendaraan di depannya, cukup dengan melihat kaca spion – tak perlu berpaling ke belakang…………itulah yang sedang dilakukan JIDOOR ART TEMANGGUNG yang di Louncing pada tanggal 27, 28, dan 29 April 2012 – di Eks Stasiun Kereta Api/ Gedung Juang ’45.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar